Tuesday, June 26, 2012

Perencanaan Kehamilan


1. Pengertian Kehamilan
Kehamilan merupakan suatu proses yang alamiah dan fisiologis. Setiap perempuan yang memiliki organ reproduksi yang telah mengalami menstruasi, dan melakukan hubungan seksual dengan seorang laki-laki yang organ reproduksinya sehat sangat besar kemungkinannya akan mengalami kehamilan. Apabila kehamilan ini direncanakan, akan memberi rasa kebahagiaan dan penuh harapan (Mandriwari, 2007).
Kehamilan merupakan proses untuk memperoleh keturunan. Maka yang diharapkan adalah memiliki keturunan yang sehat normal serta memiliki intelengensi tinggi dan untuk memperolehnya, tentu saja kehamilan tidak boleh dilalui dengan begitu saja. Seharusnya banyak persiapan untuk menjalani proses kehamilan, termasuk salah satunya merencanakan jarak kehamilan (Purwanto, T P, 2011).                                                                                                  
 Perencanaan berkeluarga yang optimal melalui perencanaan kehamilan yang aman, sehat dan diinginkan merupakan salah satu faktor penting dalam upaya menurunkan angka kematian maternal. Menjaga jarak kehamilan tak hanya menyelamatkan ibu dan bayi dari sisi kesehatan, namun juga memperbaiki kualitas hubungan psikologis keluarga (Sugiri, 2007).                               
 Perencanaan kelahiran adalah dalam rangka mempersiapkan keturunan yang lebih baik dan terpenuhinya kesejahteraan keluarga secara fisik, sosial, dan ekonomi. Masyarakat, keluarga, dan individu laki-laki maupun perempuan memiliki peranan penting dalam proses perencanaan kelahiran untuk mewujudkan kesejahteraan mereka. Penundaan kelahiran adalah selang  antara waktu perkawinan dengan kelahiran anak pertama, antara anak pertama dengan anak kedua, dan seterusnya. Penundaan kelahiran anak saat ini telah menjadi fenomena lazim di antara pasangan-pasangan usia subur. Kapan akan mempunyai anak adalah keinginan pribadi tiap-tiap pasangan yang terkait dengan kondisi sosial, ekonomi, dan budaya yang dianutnya. Kesadaran penggunaan alat kontrasespi dalam menunda kelahiran tidak terlepas darn penilaian orang tua terhadap anak (Tukiran dkk, 2010).
           Menurut Rizakartiko (2010) faktor-faktor Penyebab KTD, yaitu:
1.        Penundaan  atau  peningkatan  usia  kawin  atau  semakin  dininya  usia menstruasi (menarche) ini menyebabkan masa masa rawan semakin panjang, hal ini terbukti dengan semakin banyaknya kasus hamil luar nikah
2.        Ketidaktahuan atau minimnya pengetahuan tentang perilaku seks yang tidak menyebabkan kehamilan
3.        Tidak menggunakan alat kontrasepsi terutama untuk perempuan yang sudah menikah untuk menunda kehamilan.
4.        Kegagalan alat kontrasepsi.
5.        Akibat perkosaan.
6.        Kondisi perempuan yang tidak menginginkan kehamilan.
7.        Persoalan sosial ekonomi.
8.        Alasan karir atau masih usia sekolah atau konsekuensi lain yang dapat menghambat karir atau kegiatan belajar.
9.        Kehamilan incest.
10.    Kondisi janin yang dianggap cacat berat atau berjenis kelamin yang tidak diinginkan.

     Faktor penyebab alasan yang mempengaruhi kehamilan yang tidak direncanakan   yaitu: Pertama yaitu SDM yang masih rendah dengan pola pikir tradisional yang di latar belakangi oleh faktor keagamaan dan kultur budaya masyarakat sehingga berdampak terhadap kurangnya pengetahuan tentang alat kontrasepsi. Faktor jangkauan Program Keluarga Berencana terutama berkurangnya tenaga penyuluh KB dan kurangnya pengetahuan PUS tentang alat kontrasepsi. Hal tersebut sangat terkait dengan tingkat pendidikan PUS terutama istri. Di samping itu pengaruh orang lain seperti lingkungan dan interen keluarga juga mempengaruhi alasan PUS untuk unmet need dan ada juga faktor lain yang cukup berpengaruh alasan istri unmet need  yaitu faktor kelemahan jasmani yaitu rumah tangga yang memiliki lebih banyak tanggungan keluarga daripada sumber nafkah penghasilan, sehingga kelemahan jasmani merupakan salah satu mata rantai yang paling banyak memiliki jalinan yang berkaitan erat dengan kemiskinan.
Kedua yaitu lemahnya pelaksanaan Program KB antara lain persepsi keluarga dalam memilih metode kontrasepsi, faktor sarana pelayanan KB dan ketersediaan alat kontrasepsi serta faktor penyampaian KIE dan konseling. Adanya kerjasama suami istri dalam menentukan pilihan terhadap pemakaian alat kontrasepsi sangat berpengaruh terhadap penurunan unmet need. (Handrina, 2011).            

2. Penentuan Jarak Kehamilan
       Menurut BKKBN (2005) dalam Tukiran (2010) perempuan setelah melahirkan akan menyusui bayinya dan tidak langsung memperoleh menstruasi (amenorrhea laktasi) untuk beberapa bulan (6-12 bulan). Selama periode tersebut, seseorang ibu umunya tidak subur sehingga memberikan kesempatan untuk memiliki anak dengan jarak kelahiran (birth interval) yang tidak terlalu pendek. Dari kajian selama ini, terlalu dekat jarak antar kelahiran dapat membahayakan bayi yang akan dilahirkan karena belum sempurna kondisi fisik alat kandungan ibu (maternal depletion syndrome). Oleh karena itu, diperlukan jarak optimal antar dua kelahiran anak, yaitu minimal 3 (tiga) tahun dan maksimal 5-6 tahun.
Menurut Menurut Masyhuri (2007) dikutip Siregar (2008) pengaturan jarak kehamilan merupakan salah satu usaha agar pasangan dapat lebih menerima dan siap untuk memiliki anak. Perencanaan pasangan kapan untuk memiliki anak kembali, menjadi hal penting untuk dikomunikasikan.
Menurut studi yang dipublikasikan pada 25 Februari 1999 dalam New England Journal of Medicine dianjurkan interval kehamilan antara 18-23 bulan (1,5-2 tahun). Jika jaraknya sekitar atau kurang dari 6 bulan, maka berisiko 30-40% lebih besar mengalami kelahiran prematur. Risiko ini juga meningkat secara signifikan pada ibu yang menunda kehamilan terlalu lama misalnya hingga 10 tahun. Perempuan yang menunggu terlalu lama untuk kehamilan berikutnya memiliki kemungkinan lebih besar mengalami preeklampsia atau eklampsia.
       Jarak yang terlalu lama antara kehamilan bisa mengurangi manfaat yang diperoleh dari kehamilan sebelumnya, seperti uterus yang sudah membesar dan meningkatnya aliran darah ke uterus. Sedangkan jika jaraknya terlalu pendek akan membuat ibu tidak memiliki waktu untuk pemulihan, kerusakan sistem reproduksi atau masalah postpartum lainnya. Kebutuhan yang diperlukan ketika menentukan waktu kehamilan berikutnya, banyak orangtua yang mempertimbangkan beberapa faktor seperti keuangan, pekerjaan dan usia. Jika seseorang sudah berusia di atas 30 tahun dan memiliki kehidupan yang mapan cenderung tidak terlalu lama menunda kehamilan (Ferynal, 2010).
Menurut Dwijayanti (2005) dikutip Siregar (2008) faktor usia merupakan faktor penting dalam menentukan jarak kehamilan, terutama bagi perempuan bila berusia 38 tahun dan masih menginginkan 2 orang anak maka tidak bisa hamil dengan jarak umur tiga tahun antara yang satu dengan yang lain, bila usia dibawah 30 tahun dan tidak mempunyai masalah kesehatan yang membahayakan kehamilan maka masih mempunyai kesempatan untuk mengatur jarak kehamilan.
Menurut BKKBN (2005) dalam Tukiran (2010) untuk meningkatkan kelangsungan hidup ibu, bayi, dan anak dapat didasarkan pada proses alamiah, yang dimaksud dengan proses reproduksi alamiah adalah:
a.       Menunda kelahiran anak pertama (sampai siap mental dan fisik)
b.      Menjamin jarak kehamilan yang optimal selama 3-5 tahun (sampai alat kandungan siap untuk hamil kembali)
c.       Memastikan jumlah anak yang tidak terlalu banyak (agar dapat dipelihara dengan baik)
d.      Memiliki anak pada saat umur tidak terlalu tua (resiko kematian ibu dan anak rendah).
Upaya-upaya tersebut dengan istilah 4 ‘terlalu’ , yaitu: jangan terlalu muda, jangan terlalu dekat, jangan terlalu banyak, dan jangan terlalu tua dalam memiliki anak. Oleh karena itu, upaya pengaturan kehamilan selalu dapat dikaitkan dengan kelangsungan hidup ibu dan bayi serta anaknya. Atas dasar inilah secara sadar manusia menciptakan kondisi ideal kelahiran anaknya melalui perencanaan kelahiran, antara lain dengan upaya pengaturan jarak kehamilan yang optimal.
3. Resiko dalam Menentukan Jarak Kehamilan
     Menurut Hanafi (2004) KB merupakan suatu cara yang efektif  untuk mencegah mortalitas ibu dan anak karena dapat menolong pasanganan suami istri menghindari kehamilan resiko tinggi. KB tidak dapat menjamin kesehatan ibu dan anak, tetapi melindungi keluarga terhadap kehamilan resiko tinggi, KB dapat menyelamatkan jiwa dan mengurangi angka kesakitan.
     Kehamilan Resiko Tinggi dapat timbul pada kehamilan < usia 18 tahun, kehamilan > usia 35 tahun, kehamilan setelah 4 anak dilahirkan, dan kehamilan dengan interval/jarak < 2 tahun.
a.    Kehamilan < usia 18 tahun, yaitu: perempuan masih dalam masa pertumbuhan, sehingga panggulnya relatif masih kecil, biologis sudah siap, psikologis belum matang, Stillbirths meningkat, dan kematian bayi meningkat.
b.    Kehamilan > usia 35 tahun, yaitu: problem kesehatan seperti hipertensi, diabetes melitus, anemia,  dan penyakit-penyakit kronis lain, cacat bawaan/kelaianan genetik.
c.    Kehamilan > 4 anak/spacing 2 tahun, yaitu: berat badan lahir rendah, nutrisi kurang, waktu/lama menyusui berkurang, kompetesi dalam sumber-sumber keluarga, lebih sering terkena penyakit, tumbuh kembang lambat, dan pendidikan/intelengenesia dan pendidikan akademis lebih rendah.

0 comments:

Post a Comment

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites