Tuesday, June 26, 2012

Kinerja Perawat


  1. Pengertian Kinerja
Robbins dalam Rai (2008) kinerja merupakan hasil evaluasi terhadap pekerjaan yang telah dilakukan dibandingkan dengan kriteria yang telah di tetapkan bersama.
Dengan demikian kinerja dapat diartikan sebagai hasil dari pekerjaan atau prestasi kerja yang dibandingkan terhadap kriteria yang telah ditetapkan oleh suatu perusahaan.
  1. Penilaian Kinerja
Menurut Swanburg dalam Nursalam (2007) Penilaian kinerja merupakan alat yang dapat dipercaya oleh manajer perawat dalam mengontrol sumber daya manusia dan produktivitas. Proses penilaian kinerja perawat dilakukan untuk menghasilkan jasa keperawatan dalam kualitas dan volume yang tinggi. Untuk mengatur arah kerja dalam memilih, melatih, membimbing perencanaan karier, serta member penghargaan kepada perawat yang berkompeten dapat menggunakan proses operasional kinerja.
Sistem penilaian pelaksanan kerja perawat adalah satu ukuran pengawasan yang digunakan oleh manajer perawat untuk mencapai hasil organisasi. Melalui evaluasi yang rutin dari setiap pelaksanaan kerja pegawai, manajer harus dapat mencapai beberapa tujuan. Hal ini berguna untuk membantu kepuasan dan untuk memperbaiki pelaksanaan kerja mereka, memberitahu perawat, bahwa kerja mereka kurang memuaskan, serta mempromosikan jabatan dan kenaikan gaji, mengenal perawat yang memenuhi syarat penugasan khusus, memperbaiki komunikasi antara atasan dan bawahan serta menentukan pelatihan dasar untuk pelatihan karyawan yang memerlukan bimbingan khusus (Nursalam, 2007).
Menurut Gillies dalam Nursalam (2007) untuk mengevaluasi bawahan secara tepat dan adil, manajer sebaiknya mengamati prinsip-prinsip tertentu yaitu:
a.       Evaluasi pekerja sebaiknya didasarkan pada standar pelaksanaan kerja, dan orientasi tingkah laku untuk posisi yang ditempati. Karena deskripsi dan standar pelaksanaan kerja disajikan ke pegawai selama masa orientasi sebagai tujuan yang harus diusahakan, pelaksanaan sebaiknya di evaluasi berkenaan dengan sasaran-sasaran yang sama.
b.      Sampel tingkah laku perawat yang cukup representative sebaiknya diamati dalam rangka evaluasi pelaksanaan kerjanya. Perhatian harus diberikan untuk mengevaluasi tingkah laku konsistennya, serta guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
c.       Perawat sebaiknya diberi salinan deskripsi kerjanya, standar pelaksanaan kerja, dan bentuk evaluasi untuk peninjauan ulang sebelum pertemuan evaluasi, sehingga baik perawat maupun supervisor dapat mendiskusikan evaluasi dari kerangka kerja yang sama.
d.      Di dalam menuliskan penilaian pelaksanaan kerja pegawai, maajer menunjukkan segi-segi dimana pelaksanaan kerja itu bias memuaskan dan perbaikan apa yang diperlukan. Supervisor sebaiknya merujuk pada contoh-contoh khusus mengenai tingkah laku yang memuaskan maupun yang tidak memuaskan, supaya dapat menjelaskan dasar-dasar komentar yang bersifat evaluatif.
e.       Jika diperlukan, manajer sebaiknya menjelaskan area mana yang akan di prioritaskan, seiring dengan usaha perawat untuk meningkatkan pelaksanaan kerja.
f.       Pertemuan evaluasi sebaiknya dilakukan pada waktu yang cocok bagi perawat dan manajer, dan diskusi evaluasi sebaiknya dilakukan dalam waktu yang cukup bagi keduanya.
g.      Baik laporan evaluasi maupun pertemuan sebaiknya disusun dengan terencana, sehingga perawat tidak merasa kalau pelaksanaan kerjanya sedang dianalisis (Simpson, 1985). Seorang pegawai dapat bertahan dari kecaman seorang manajer yang menunjukkan pertimbangan atas perasaannya, serta menawarkan bantuan untuk meningkatkan pelaksanaan kerjanya.
  1. Manfaat Penilaian Kinerja
Manfaat penilaian kerja menurut Nursalam (2007) yaitu sebagai berikut :
a.       Meningkatkan prestasi kerja staf, baik secara individu atau kelompok, dengan memberikan kesempatan pada mereka untuk memenuhi kebutuhan aktualisasi diri dalam kerangka pencapaian tujuan pelayanan Rumah Sakit.
b.      Peningkatan yang terjadi pada prestasi staf secara perorangan pada gilirannya akan memengaruhi atau mendorong SDM secara keseluruhannya.
c.       Merangsang minat dalam pengembangan pribadi dengan tujuan meningkatkan hasil karya dan prestasi, dengan cara memberikan umpan balik kepada mereka tentang prestasinya.
d.      Membantu Rumah Sakit untuk dapat menyusun program pengembangan dan pelatihan staf yang lebih tepat guna. Sehingga, RS akan mempunyai tenaga yang cakap dan tampil untuk pengembangan pelayanan keperawatan dimasa depan.
e.       Menyediakan alat  dan sarana untuk membandingkan presasi kerja dengan meningkatkan gaji atau sistem imbalan yang baik.
f.       Memberikan kesempatan kepada pegawai atau staf untuk mengeluarkan perasaannya tentang pekerjaannya, atau lain yang ada kaitannya melalui jalur komunikasi dan dialog, sehingga dapat mempererat hubungan antara atasan dan bawahan.
  1. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja
Menurut Mathis dan Jackson (2001 ) faktor-faktor yang memengaruhi kinerja individu tenaga kerja, yaitu:
a.       Kemampuan mereka,
b.      Motivasi,
c.       Dukungan yang diterima,
d.      Keberadaan pekerjaan yang mereka lakukan, dan
e.       Hubungan mereka dengan organisasi.
Menurut Mangkunegara (2000) menyatakan bahwa faktor yang memengaruhi kinerja antara lain :
a.       Faktor kemampuan
Secara psikologis kemampuan (ability) pegawai terdiri dari kemampuan potensi (IQ) dan kemampuan realita (pendidikan). Oleh karena itu pegawai perlu dtempatkan pada pekerjaan yang sesuai dengan keahlihannya.
b.      Faktor motivasi
Motivasi terbentuk dari sikap (attiude) seorang pegawai dalam menghadapi situasi (situasion) kerja. Motivasi merupakan kondisi yang menggerakkan diri pegawai terarah untuk mencapai tujuan kerja. Sikap mental merupakan kondisi mental yang mendorong seseorang untuk berusaha mencapai potensi kerja secara maksimal.
  1. Kinerja Perawat dalam Melaksanakan Asuhan Keperawatan
Menurut PPNI (2000) dalam Nursalam (2007) Standar praktik keperawatan yang mengacu pada tahapan proses keperawatan yaitu meliputi: pengkajian, diagnosis keperawatan, perencanaan, implementasi dan evaluasi.


a.       Standar I : Pengkajian Keperawatan
Perawat mengumpulkan data tentang status kesehatan klien secara sistematis, meneluruh, akurat, singkat, dan berkesinambungan. Kriteria pengkajian perawat meliputi:
1)      Pengumpulan data dilakukan dengan cara anamnesis, observasi, pemeriksaan fisik, serta dari pemeriksaan penunjang.
2)      Sumber data adalah klien, keluarga atau orang yang terkait, tim kesehatan, rekam medis, dan catatan lain.
3)      Data yang dikumpulkan, difokuskan untuk mengidentifikasi:
a)      Status kesehatan klien masa lalu.
b)      Status kesehatan klien saat ini.
c)      Status biologis, psikologis, sosial, dan spiritual.
d)     Respons terhadap terapi.
e)      Harapan terhadap tingkat kesehatan yang optimal.
f)       Risiko-risiko tinggi masalah.
4)      Kelengkapan data dasar mengandung unsur LARB (lengkap, akurat, relevan,dan baru.
b.      Standar II : Diagnosis Keperawatan
Perawat menganalisis data pengkajian untuk merumuskan diagnosis keperawatan. Kriteria proses:
1)      Proses diagnosis terdiri atas analisis, interpretasi data, identifikasi masalah klien, dan perumusan diagnosis keperawatan.
2)      Diagnosis keperawatan terdiri atas: masalah, penyebab, dan tanda atau gejala, atau terdiri atas masalah dan penyebab.
3)      Bekerja sama dengan klien, dan petugas kesehatan lain untuk memvalidasi diagnosis keperawatan.
4)      Melakukan pengkajian ulang, dan merevisi diagnosis berdasarkan data terbaru.
c.       Standar III : Perencanaan Keperawatan
Perawat membuat rencana tindakan keperawatan untuk mengatasi masalah dan meningkatkan kesehatan klien. Kriteria proses meliputi :
1)      Perencanaan terdiri atas penetapan prioritas masalah,tujuan dan rencana tindakan keperawatan.
2)      Bekerja sama dengan klien dalam menyusun rencana tindakan keperawatan.
3)      Perencanaan bersifat individual sesuai dengan kondisi atau kebutuhan klien.
4)      Mendokumentasi rencana keperawatan.
d.      Standar IV : Implementasi
Perawat mrngimplementasi tindakan yang telah diidentifikasi dalam rencana asuhan keperawatan. Kriteria proses meliputi:
1)      Bekerjasama dengan klien dalam pelaksanaan tindakan keperawatan.
2)      Kolaborasi dengan tim kesehatan lain.
3)      Melakukan tindakan keperawatan untuk mengatasi kesehatan klien.
4)      Memberikan pendidikan pada klien dan keluarga mengenai konsep , keterampilan asuhan diri serta membantu klien memodifikasi lingkungan yang digunakan.
5)      Mengkaji ulang dan merevisi pelaksanaan tindakan keperawatan berdasarkan respons klien.
e.       Standar V : Evaluasi Keperawatan
Perawat mengevaluasi kemajuan klien terhadap tindakan keperawatan dalam pencapaian tujuan, dan merevisi data dasar dan perencanaan. Kriteria proses meliputi:
1)      Menyusun perencanaan evaluasi hasil dari intervensi secara komprehensif, tepat waktu dan terus menerus.
2)      Menggunakan data dasar dan respons klien dalam mengukur perkembangan ke arah pencapaian tujuan.
3)      Memvalidasi dan menganalisis data baru dengan teman sejawat.
4)      Bekerja sama dengan keluarga klien untuk memodifikasi rencana asuhan keperawatan.
5)      Mendokumentasi hasil evaluasi dan memodifikasi perencanaan.

0 comments:

Post a Comment

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites